Powered By Blogger

Jumat, 22 April 2011

Cerpen

Friends Forever


Sesak sekali bus TransJakarta hari ini.Aku memberi jalan kepada seorang wanita tua yang ingin keluar. “Wi, sini kosong!”teriak Rani sambil menunjuk bangku di sampingnya yang kosong. Aku segera duduk di bangku sebelahnya. Rencanya, hari ini aku, Rani, Meidy, Astri, dan Jodi akan pergi ke Dufan untuk merayakan kelulusan kami.

“Jangan cepet cepet, dong, jalannya!” teriak Meidy yang sudah tertinggal jauh di belakang. Kami telah berada di kawasan Dufan. Pengunjung hari ini tidak terlalu ramai karena hari ini masih hari kerja. Aku berlari ke arah Meidy dan meraik tangannya agar lebih cepat berjalan.

“Komidi putar! Ayo, kita naik!” ajak Rani saat kami telah berkumpul. Dia menarik tangan Astri menuju komidi putar. “Dasar anak-anak!”kata Jodi pelan tapi aku masih bias mendengarnya. “Jodi, nanti fotoin yah!”Meidy memberikan kameranya kepada Jodi yang tidak ikut naik komidi putar. Lalu, aku dan Meidy menyusul Rani dan Astri yang sudah ada di antrean komidi putar.

“Naek apa lagi?” Tanya Jodi.

“Bianglala.”Astri memberi saran. Semua setuju.

“Asyiiiik!”teriakku senang.

Kami pun naik bianglala. Tak perlu lama menunggu sampai kami masuk ke dalam kapsul bianglala. “Asyik, Asyik! Naik bianglala!”teriakku riang seperti anak kecil. “Mei, temen lu kayak anak kecil banget.”komentar Jodi. “Temen gue? Kayaknya bukan.” Canda Meidy. Aku merengut kesal. “Makanya, jangan malu-maluin!”Astri menimpali.

Bianglala mulai berjalan naik. Aku melirik dari kaca. Pemandangan dari atas sangat menakjubkan. Aku berteriak senang. “Asyik, Asyik!” kali ini sambil berloncat-loncat. Bianglala mulai bergoyang-goyang. “Wi, jangan! Nanti kita jatuh!” teriak Astri panik. “Wi,Wi, gue marah nih!”teriak Meidy, wajahnya memucat. Aku tahu dia paling takut ketinggian. Tiba-tiba Rani menarik tanganku hingga aku terduduk di sampingnya. Dia membekap mulutku. Aku meronta-ronta. “Wi, gue bawa papaya nih. Lu ga mau ‘kan gue suapin papaya?”ancam Rani. Dia tahu kalau aku paling benci papaya. Semua tertawa melihat wajahku yang pucat karena ancaman Rani. Aku hanya tersenyum kecut.

Setelah naik bianglala, kami naik roller coaster. Awalnya Meidy tidak mau, tapi kami paksa agar mau ikut. “Iih, perut gue mual banget!” keluh Astri setelah kami turun dari Roller Coaster. Aku membimbing Meidy ke bangku terdekat. Mukanya pucat, bahkan aku hamper berpikir dia akan pingsan.

Kami beristirahat sebentar, kemudian kami berjalan menuju pantai Ancol untuk makan di sana. Kami mencari tempat yang tidak terlalu terkena sinar matahari, dan mulai memakan bekal yang kami bawa.

“Gak terasa udah tiga tahun!”kenangku tiba-tiba. “Gue jadi inget pertama kali kita ketemu.”

“Iya. Pertama kali gue ketemu lu, judes banget! Giliran udah kenal, ternyata orangnya gila banget!” kata Rani kepadaku. “Thanks pujiannya!” Aku tertawa.

“Gue aja sampe takut ngeliat Tiwi dulu. Gue kirain orangnya judes, gak tahunya cerewet. Semenjak, gue temenan sama Tiwi, tiap hari gue ketawa mulu.” Tambah Meidy.

“Gue waktu pertama kali ngeliat Astri, orangnya pendiam banget! Ternyata setelah kenal, orangnya nyolot!” kami tertawa berbarengan.

“Eh, ngomong, dong, Jod!”perintahku pada Jodi yang dari tadi diam saja. “Yah, menurut gue waktu pertama kali ketemu Rani dia itu cantik, baik, ….”

“Yeee… itu, sih, karena dari awal lu udah suka sama Rani!”potong Astri sambil melempar butiran-butiran pasir kea rah Jodi. “Gue jadi inget waktu Jodi nembak Rani.”kenang Meidy. Aku melirik ke arahnya dan tertawa bersamaan tiba-tiba. “Lucu banget. Gue inget!” kataku disela-sela tawa. Rani melempar butiran-butiran pasir ke arahku dan Meidy. Kami membalasnya, tetapi ia berlindung di balik Jodi. Sehingga, pasir yang kami lempar mengenai Jodi. Sebelum Jodi sempat membalas, aku dan Meidy telah berlari menjauh.

Kami jadi berkejar-kejarn di pantai sambil melempar nutiran pasir. “Stop!”teriakku tiba-tiba. Semua berhenti di tempat. “Sunset.”gumam Astri. Semua melihat ke arah matahari yang hendak terbenam. Tiba-tiba, suasana saat itu berubah menjadi haru.

“Sebentar lagi kita pisah ya!”kata Astri.

“Jangan pada ngelupain ya!”kata Rani sedih.

“Iya, jangan pada lost contact!”tambah Meidy. Semua terdiam. Semua merasa sedih karena sebentar lagi akan kuliah di tempat yang terpisah.

“Aduuuh, tiba-tiba gue jadi pengen nangis!”candaku memecah keheningan. “Kapan, sih, lu nangis, Wi?”Tanya Meidy penuh canda. “Kapan,ya?”tanyaku pura-pura berpikir.

“Kita bikin perjanjian yuk!” ajak Rani.

“Iya. Kalian harus janji kalo merit ngundang-ngundang yah!”celetukku kepada Rani dan Jodi. Mereka berdua melemparku dengan pasir, aku berlindung agar tidak terkena serangan pasir mereka.

“Serius, ah!”kata Rani. “Eh, Tiwi juga bener loh! Masa nanti lu merit kita ga diundang!”timpal Meidy. Rani tambah cemberut.

“Gimana nanti kalo kita udah lulus kuliah kita kesini lagi.”usul Astri. “Di tempat yang sama dan waktu yang sama.”tambah Jodi. “Deal!”teriakku sambil mengulurkan tangan, yang lain mengikuti. “Ayo kita raih impian kita!”kata Meidy. “Yeah!”teriak Astri dan Rani berbarengan. “Friends forever!”tambahku. “Friends forever!”teriak kami berbarengan.